Harga Rica Semakin Menggila, Pemerintah Dinilai Tak Mampu Kendalikan Harga

by -553 Views

MANGUNISUARARAKYAT.COM, Manado – Harga Bahan Pangan dikota Manado tak terkendali saat Perayaan Natal hingga hari ini.

Berdasarkan pantauan media ini, per hari Rabu (26/12) harga Rica masih dikisaran Rp. 180 ribu per kg dan Tomat Rp. 30 rb per kg.

Harga tersebut sangat menekan ekonomi warga saat merayakan Natal, apalagi para usahawan kecil dan menengah (UMKM) khususnya kuliner.

” Kami sangat terpukul dengan kenaikan bahan pangan seperti rica, tomat dan bahan lainnya, kami tidak dapat mengeruk keuntungan karena harga rica sangat mahal ,” tutur Tasya, Pengusaha Restoran Minahasa.

Warga mempertanyakan Pemerintah dan dinas terkait yang berkompetensi terhadap pengendalian bahan pangan.

” Bagaimana dinas ketahanan pangan , dinas perindustrian dan perdagangan ? Apakah mereka masih bekerja mengendalikan harga pangan yang menjerit kami ? Pemerintah jangan diam dong, masak saat natal harga beras, rica, tomat bahkan harga daging babi melonjak ? Dimana peran pemerintah ? , ” geram John warga Tingkulu.

Pemerintah harus mengendalikan harga pasar untuk mengatasi kegagalan pasar (market failure) seperti kekakuan harga, monopoli, dan eksternalitas yang merugikan maka peran pemerintah sangat diperlukan dalam perekonomian suatu negara atau daerah.

Beberapa penelitian terdahulu yang di lakukan oleh (Darma et al., n.d.) menunjukan bahwa dampak dari kenaikan harga suatu komoditas seperti sembako berakibat pada meningkatnya inflasi di Indonesia dan di daerah. Sementara beban yang akan di tanggung masyarakat kelas bawah akan semakin berat .

Sementara itu Seorang Pengamat Ekonomi Sulut yang enggan namanya ditulis mengatakan Kenaikan Harga Bahan Pokok Pangan harus diseriusi Pemerintah Daerah.

” Kenaikan Bahan Pokok ada konsekuensinya yakni inflasi maka Pemerintah harus berupaya untuk menekan angka inflasi yang diakibatkan karena tidak terkontrolnya kenaikan rica, tomat dan bahan pokok lainnya, ” ungkap Mantan Bankir ini.

Ia juga mensinyalir adanya praktek ambil untung dari pihak pedagang yang memanfaatkan situasi dan momen Nataru sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan besar dan hal ini perlu ditelusuri Tim Khusus dari intansi terkait.

(Dayke)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.